• SMA NEGERI 1 FATULEU TENGAH
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Syalom,
Salve,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Saya I Putu Alex Sudiartana, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Kupang dari SMA Negeri 1 Fatuleu Tengah. Saya mengucapkan  terima kasih kepada Fasilitator saya yang selalu membimbing, mengarahkan dan memberikan support kepada saya yaitu Muhamad Jaelani dan juga kepada Pengajar Praktik saya Ibu Dian Novita Maria Banunu. Dalam tulisan ini saya membahas tentang Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam Tugas ini terdapat 10 pertanyaan yang akan saya coba membahasnya satu persatu. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi bapak ibu semua.

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Filosofi Pratap Triloka menyatakan tentang Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dimana Ing Ngarsa Sung tuladha berarti di depan kita harus mampu memberikan teladan yang baik kepada rekan guru, murid maupun anggota masyarakat. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di sekolah tentu akan selalu dihadapkan pada situasi dilema etika dalam pengambilan keputusan dan bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang kita diambil di sekolah akan menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah. Untuk itu, dalam pengambilan keputusan kita harus mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar keputusan yang kita ambil bisa memberikan contoh baik pada rekan guru maupun murid kita. Selanjutnya Ing Madya Mangun Karsa berarti ditengah kita dapat membangun karsa atau semangat kepada rekan guru dan murid. Sebagai guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada murid dan mampu membangkitkan semangat muridnya. Sedangkan Tut Wuri Handayani berarti dibelakang dapat memberikan dorongan murid untuk dapat mengembangkan potensi dirinya. Guru harus mampu mengambil suatu keputusan yang dapat mendorong murid mengembangkan potensinya sesuai dengan minat, profil dan kesiapan belajarnya. Dengan menerapkan filosofi Pratap Triloka akan menjadi pedoman guru dalam mengambil keputusan yang tepat dan berpihak pada murid untuk menciptakan pembelajaran yang positif, aman dan menyenangkan.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam mengambil suatu keputusan. Adapun nilai – nilai tersebut diantaranya mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita dalam posisi untuk mengambil keputusan yang berada pada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir sebaik mungkin untuk mengambil keputusan yang benar. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil.

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam proses pengambilan keputusan, selain melakukan pengujian 4 paradigma, 3 prinsip resolusi, serta menjalankan 9 langkah-langkah pengambilan keputusan perlu juga memiliki keterampilan lain. Keterampilan yang dimaksud tentu keterampilan-keterampilan yang sudah dipelajari pada modul-modul sebelumnya, salah satunya adalah coaching. Di dalam coaching, coach menuntun coachee untuk dapat menemukan jalan keluar dari permasalahannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan efektif yang menggali potensi atau kekuatan coachee, sehingga pada akhirnya coachee dapat mengambil keputusan sendiri terkait apa yang akan ia lakukan untuk mengatasi permasalahannya. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator sudah sangat baik dan bermanfaat bagi saya dalam mengambil keputusan yang tepat untuk saya, murid, rekan guru maupun warga sekolah.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kompetensi sosial sangat diperlukan agar guru fokus dan melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya. Seorang pendidik harus bisa memahami dan mengetaui masalah yang dihadapi apakah merupakan dilema etika atau bujukan moral. Untuk itu sebagai guru harus bisa menjiwai nilai-nilai yang dimilikinya diantaranya mandiri, reflektf, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada muid. Kelima nilai dalam diri guru tersebut sebagai pedoman dalam mengambil suatu keputusan. Sebagai guru harus mampu mengidentifikasi masalah sebelum mengambil keputusan agar keputusan yang diambil tepat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dalam studi kasus pengambilan keputusan, seorang guru harus memahami terlebih dahulu perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika. Seorang guru harus memastikan terlebih dahulu, apakah studi kasus yang di dalamnya adalah benar vs benar atau benar vs salah. Jika studi kasus yang dianalisis adalah benar vs benar, maka guru harus menetapkan langkah pengambilan keputusan. Hal ini karena bisa dipastikan kasus tersebut termasuk dilema etika. Sedangkan apabila kasus tersebut benar vs salah berarti kasus tersebut merupakan bujukan moral. Ketika saya menghadapi suatu dilemma etika yang menuntut saya untuk mengambil keputusan yang tepat tentunya saya akan menerapkan 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Dimana dasar dan pedoman dari keseluruhannya adalah nilai – nilai yang saya miliki.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan pada situasi dilema etika atau moral benar lawan benar tetapi bertentangan dengan menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan melakukan pemetaan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, melakukan pengujian benar atau salah, melakukan pengujian paradigma, melakukan prinsip resolusi, Investigasi Opsi Trilema, membuat keputusan, dan melihat lagi Keputusan dan merefleksikan. Dengan langkah tersebut akan diperoleh keputusan yang tepat dan diyakini mengakomodir semua kepentingan pihak-pihak yang terlibat sehingga akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Hal ini tentu kembali pada 4 paradigma yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Sehingga kesulitan yang muncul pada perubahan paradigm di lingkungan sekolah diantaranya:

  1. Sistem yang kadang memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid.
  2. Tidak semua warga sekolah berkomitmen untuk menjalankan keputusan bersama

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang diambil pasti akan memiliki pengaruh dengan pengajaran apabila keputusan yang diambil tersebut sudah berpihak kepada murid. Dalam hal ini tentang pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan kebutuhan murid maka keputusan tersebut akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya masing-masing.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan untuk melakukan pembelajaran yang  berpihak pada murid, dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, memasukkan keterampilan sosial emosional dan menanamkan budaya positif, maka diharapkan murid-muridnya akan belajar menjadi generasi yang merdeka, kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan bagi masa depannya. Di masa mendatang mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang cermat dalam mengambil keputusan penting bagi dirinya. Tetapi sebaliknya, ketika seorang guru mengambil keputusan yang salah atau kurang  bijaksana yang “melukai” murid, maka bisa jadi berdampak buruk bagi masa depan murid. Keputusan yang salah bisa membuat murid merasa trauma atau rendah diri sehingga tidak mau lagi untuk mengembangkan diri dan potensinya. Untuk itu keputusan yang berpihak pada murid tentunya harus dipertimbangkan secara cermat dengan melakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat, profil dan kesiapan belajar.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari koneksi materi modul 3.1.a.9 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan modul-modul yang sudah dipelajari sebelumnya merupakan satu kesatuan yang utuh untuk memerdekakan murid dalam belajar. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat  anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagian baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Untuk itu, pengambilan keputusan yang tepat oleh guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran sangatlah penting, keputusan yang selalu berpihak pada murid, berdampak positif bagi seluruh warga sekolah dan banyak pihak lainnya, sejalan dengan nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggungjawabkan akan dapat melahirkan generasi Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila.

Demikianlah koneksi antar materi dari modul 3.1.a.9 terkait dengan pengambilan keputusan yang saya buat, semoga bermanfaat.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
TATA TERTIB GURU DAN PEGAWAI SMA NEGERI 1 FATULEU TENGAH TAHUN PELAJARAN 2023-2024

  REGULASI Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republ

03/10/2023 21:18 - Oleh Administrator - Dilihat 4004 kali
"Mengapa kurikulum perlu berubah?"

Sabtu, 11 Februari 2023 Oleh I Putu Alex Sudiartana, S.Pd, Gr - Plt. Kepala SMAN 1 Fatuleu Tengah   Apa itu kurikulum? Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendid

11/02/2023 18:36 - Oleh Administrator - Dilihat 5206 kali
MENGAPA GURU HARUS MENJADI GURU PENGGERAK?

Nunsaen, 10 November 2022 Oleh I Putu Alex Sudiartana, S.Pd, Gr - Plt.Kepala SMAN 1 Fatuleu Tengah Guru Penggerak Kabupaten Kupang Gambar : Guru Penggerak Kabupaten Kupang Guru Pe

10/12/2022 00:05 - Oleh Administrator - Dilihat 4753 kali
Struktur Cerpen

    Pengertian Cerpen Menurut KBBI:  Cerpen merupakan cerita pendek yang berisi tentang kisah cerita yang berisi tidak lebih dari 10 ribu kata. Pada umumnya cerita p

20/07/2022 11:24 - Oleh Sartiny Seubelan - Dilihat 495 kali
Sifon dan Seks Bebas Remaja Sekolahan di Pelosok Timor, NTT

RH, pelajar berusia 18 tahun asal Bonatama, Desa Poto, kecamatan Fatuleu Barat, kabupaten Kupang yang kini duduk di kelas X SMAN 2 Fatuleu Barat mengikuti sunatan (khatan) yang dil

20/07/2022 10:49 - Oleh Administrator - Dilihat 1934 kali